Minggu, 24 Mei 2015



Perkembangan Perencanaan Pendidikan dan Aliran  Perencanaan  Pendidikan

A.           Definisi  perencanaan pendidikan
Dari berbagai pendapat atau definisi yang dikemukakan oleh para pakar manajemen, antara lain :
a.              Menurut, Prof. Dr. Yusuf Enoch
Perencanaan Pendidikan, adalah suatu proses yang mempersiapkan seperangkat alternatif  keputusan bagi kegiatan masa depan yang diarahkan kepada pencapaian tujuan dengan usaha yang optimal dan mempertimbangkan kenyataan-kenyataan yang ada di bidang ekonomi, sosial budaya serta menyeluruh suatu Negara.
b.             Beeby, C.E.
Perencanaan Pendidikan adalah suatu usaha melihat ke masa depan dalam hal menentukan kebijaksanaan prioritas, dan biaya pendidikan yang mempertimbangkan kenyataan kegiatan yang ada dalam bidang ekonomi, social, dan politik untuk mengembangkan potensi system pendidikan nasioanal memenuhi kebutuhan bangsa dan anak didik yang dilayani oleh system tersebut.
c.              Menurut Albert Waterson (Don Adam 1975)
Perencanaan Pendidikan adalah investasi pendidikan yang dapat dijalankan oleh kegiatan-kegiatan pembangunan lain yang didasarkan atas pertimbangan ekonomi dan biaya serta keuntungan sosial.
Jadi, definisi perencanaan pendidikan apabila disimpulkan dari beberapa pendapat tersebut, adalah suatu proses intelektual yang berkesinambungan dalam menganalisis, merumuskan, dan menimbang serta memutuskan dengan keputusan yang diambil harus mempunyai konsistensi (taat asas) internal yang berhubungan secara sistematis dengan keputusan-keputusan lain, baik dalam bidang-bidang itu sendiri maupun dalam bidang-bidang lain dalam pembangunan, dan tidak ada batas waktu untuk satu jenis kegiatan, serta tidak harus selalu satu kegiatan mendahului dan didahului oleh kegiatan lain.
B.            Sejarah Perkembangan perencanaan pendidikan
2500 tahun yang lalu  perencanaan pendidikan itu sudah ada, dimana bangsa sparta telah merencanakan pendidikan untuk merealisasikan tujuan militer, sosial dan ekonomi mereka. Plato dalam bukunya “republik” menulis tentang : rencana pendidikan yang dapat menjamin tersedianya tenaga kepemimpinan dan politik yang dibutuhkan oleh athena. Cina dalam masa pemerintahan dinasti han dan peru pada masa kejayaan, inca merencanakan pendidikan mereka untuk menjamin kelangsungan hidup negara masing-masing.
Timbulnya aliran libralisme di eropa pada akhir abad 18 dan 19 misalnya menghasilkan berbagai usul yang dinamakan “rencana pendidikan”, dan “reformasi  mengajar” sebagai sarana untuk mengadakan reformasi sosial. Salah satu rencana yang terkenal pada saat itu adalah rencana yang dibuat oleh diderot yang berjudul “plan d’une universite pour le gouverment de russie” yang disiapkannya atas permintaan ratu catherina II.
Bangsa rusia 2/3 rakyatnya buta huruf pada saat dibuatnya rencana 5 tahunan pertama yang dibuat 1923 menjadi salah satu negara yang pendidikannya sangat maju dalam waktu kurang dari 50 tahun. Selain bersumber dari  perkembangan besaran seperti yang dikemukakan di atas perencanaan pendidikan modern juga bersumber dari kegiatan yang bersifat rutin seperti perencanaan pada suatu daerah tentang berapa banyak siswa/mahasiswa  yang akan ditampung dalam satu lembaga pendidikan, berupa banyak ruangan, guru, bangku, buku, dan sebagainya yang diperlukan pada tahun berikutnya dan perencanaan rutin lainnya yang dilakukan oleh para administrator pendidikan.
Pada tahap awal perkembangannya perencanaan pendidikan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.             Merupakan rencana jangka pendek yang pragmentaris, dan tidak terintegrasi lebih-lebih kalau dilihat dari kebutuhan masyarakat.
2.             Tidak berasifat dinamis  dan fleksibel.
Ciri-ciri tersebut di atas sebetulnya merupakan suatu kelemahan, usaha untuk mengatasinya adalah menyusun dan menerapkan perencanaan pendidikan modern.
Di indonesia contoh sejarah perkembangan perencanaan pendidikan adalah sejak dituangkannya konsep pendidikan di dalam uud 1945, banyak lahir undang-undang dan peraturan pemerintah tentang pendidikan.
C.            Proses Perencanaan Pendidikan

Ada enam  tahap tentang proses perencanaan pendidikan yaitu:
1.             Tahap Pra perencanaan
Di perguruan tinggi misalnya kita mengenal pusat-pusat perencanaan. Pada tingkat diknas, kita mengenal biro perencanaan. Seandainya badan atau bagian perencanaan itu tidak ada, maka tahap pra perencanaan harus mulai dari:
a)      Menciptakan badan yang bertugas dalam melaksanakan fungsi perencanaan.
b)       Menetapkan prosedur perencanaan.
c)       Mengadakan reorganisasi struktural mekanisme administrasi suatu lembaga agar mampu berpartisipasi dalam proses serta implementasi perencanaan  itu.
d)      Menetapkan mekanisme serta prosedur untuk mengumpulkan dan menganalisis data yang diperlukan dalam perencanaan.
Jika badan perencanaan itu sudah ada, tugas pada tahap ini adalah  meminta otoritas dalam pendidikan, misalnya rektor untuk merumuskan tujuan yang ingin dicapai.
2.             Tahap perencanaan awal
Terdiri dari:
a)      Kegiatan diagnosis
Tahap diagnosis merupakan kegiatan membandingkan output yang diharapkan dengan apa yang telah dicapai sekarang. Diagnosis bertujuan untuk melihat apakah suatu rencana yang telah dilaksanakan itu memadai dan relevan untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
b)      Formulasi kebijakan
Kebijakan memberikan arah kepada usaha memperbaiki kelemahan dan kekurangan suatu rencana. Kebijakan harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga merupakan kerangka kerja dalam mana keputusan-keputusan yang lebih kecil  dan lebih terperenci dibuat. Kegiatan merumuskan kebijakan disebut dengan formulasi kebijakan. Kebijakan merupakan fungsi politis yang dibuat  oleh orang yang berwenang dalam organisasi pendidikan.
c)      Penilaian kebutuhan
d)     Perhitungan biaya
Dengan menggunakan data  tentang biaya tahun sebelumnya, tiap-tiap butir kebutuhan tersebut dihitung biayanya dengan memperhatikan naik turunnya harga. Sesudah perhitungan biaya ini selesai perencana dapat mengetahui jumlah keseluruhan biaya yang diperlukan untuk seluruh program.
e)      Penetapan target.
Perencana melihat dan meneliti kembali kebutuhan yang telah diidentifikasi, menetapkan prioritas program dan menetapkan tingkat pencapaian yang realistik dari suatu tujuan yang ditetapkan, sehingga dapat ditentukan program mana yang paling relevan dan efektif, hal ini dilihat dari tersedianya dana
3.             Formulasi rencana
Perencanaan mempunyai dua maksud. Pertama menyiapkan seperangkat keputusan yang akan diambil oleh otoritas, ke dua menyediakan pola dasar pelaksanaan (blue-print for action) yang akan dilaksanakan oleh berbagai satuan organisasi yang bertanggung jawab dalam implementasi keputusan-keputusan tersebut.
Sehubungan dengan kedua hal tersebut, otoritas memerlukan pernyataan (statement) yang jelas   tetang:  apa yang akan yang diusulkan, mengapa diusulkan, dan bagaimana pelaksanaannya. Ketiga hal tersebut  adalah merupakan isi dari rencana pendidikan. Persiapan untuk menyiapkan dokumen tersebut dinamakan formulasi rencana, yang harus ditulis singkat lengkap dan padat.
4.             Elaborasi rencana
Rencana pendidikan pada dasarnya adalah merupakan suatu dokumen singkat, padat dan lengkap. Dengan demikian sebelum rencana itu diimplementasikan, perlu dilakukan  elaborasi. Artinya  diperinci sedimikian rupa sehingga setiap tugas dari unit-unit dalam organisasi pendidikan menjadi jelas.
Ada dua langkah yang harus ditempuh dalam proses  elaborasi yaitu:
a.       Pembuatan program (programming) yaitu membagi rencana menjadi area-area pelaksanaan yang masing-masing mempunyai tujuan spesifik. Tiap area pelaksanaan dinamakan program. Lazimnya program  terdiri dari kelompok kegiatan yang diawasi oleh unit administrasi yang sama.
b.      Identifikasi dan formulasi proyek. Tiap program terdiri dari kelompok aktivitas-aktivitas sejenis yang dibuat dalam rangka menghitung dan mengalokasikan dana dalam pelaksanaan. Kelompok kegiatan ini dinamakan proyek. Tujuan proyek merupakan sub tujuan program dan merupakan tujuan yang spesifik. Formulasi proyek adalah tugas untuk merinci siapa pelaksana, berapa besar biaya, dimana tempat, berapa lama waktunya dan hal lain yang dianggap perlu dalam suatu proyek.
Sebelum suatu rencana dielaborasi dalam bentuk program dan proyek, rencana tersebut belum dapat dilaksanakannya. Oleh karena itu pemrograman dan perumusan dalam proses perencanaan harus dilakukan lebih dahulu. Kebanyakan rencana yang tidak dapat dilaksanakan, diakibatkan oleh kelemahan dalam tahap pembuatan program ini.
5.             Implementasi rencana
Implementassi rencana pendidikan dimulai pada saat proyek- proyek itu dilaksanakan. Disini proses perencanaan bergabung dengan proses manajemen. Dengan menggunakan budget serta rencana tahunan sebagai instrumen utama, kerangka kerja organisasi untuk melaksanakan berbagai proyek dapat dikembangkan. Sumber-sumber manusia, dana dan material kemudian dialokasikan untuk setiap proyek. Jadwal dan waktu suatu proyek juga ditetapkan.
6.             Evaluasi dan perencanaan ulang.
Pada waktu melaksanakan perencanaan pendidikan, ditetapkan pula mekanisme untuk mengevaluasi kemajuan serta mendeteksi penyimpangannya. Proses evaluasi itu dilaksanakan secara berkesinambungan.
D.           Aliran- aliran Pendidikan
1.             Aliran empirisme (aliran optimisme) Aliran ini dimotori oleh John Locke. Aliran empirisme mengutamakan perkembangan manusia dari segi empirik yang secara eksternal dapat diamati dan mengabaikan pembawaan sebagai sisi internal manusia. Dengan kata lain pengalaman adalah sumber pengetahuan, sedangkan pembawaaan yang berupa bakat tidak diakui. Manusia dilahirkan dalam keadaan kosong, sehingga pendidikan memiliki peran penting yang dapat menentukan keberadaan anak. Aliran ini melihat keberhasilan seseorang hanya dari pengalaman (pendidikan) yang diperolehnya, bukan dari kemampuan dasar yang merupakan pembawaan lahir.
2.              Aliran nativisme (aliran pesimistik)Tokoh aliran ini adalah Arthur Schoupenhauer. Aliran nativisme menyatakan bahwa  perkembangan seseorang merupakan produk dari pembawaan yang berupa bakat. Bakat yang merupakan pembawaan seseorang akan menentukan nasibnya. Aliran ini merupakan kebalikan dari aliran empirisme. Orang yang “berbakat tidak baik” akan tetap tidak baik,sehingga tidak perlu dididik untuk menjadi baik. Orang yang “berbakat baik” akan tetap  baik dan tidak perlu dididik, karena ia tidak mungkin akan terjerumus menjadi tidak baik.
3.             Aliran naturalisme Aliran ini dipelopori oleh J.J. Rousseau. Aliran naturalisme menyatakan bahwa semua anak yang dilahirkan pada dasarnya dalam keadaan baik. Anak menjadi rusak atau tidak baik karena campur tangan manusia (masyarakat). Pendidikan hanya memiliki kewajiban untuk memberikan kesempatan kepada anak untuk tumbuh dengan sendirinya. Pendidikan hendaknya diserahkan kepada alam. Dalam mendidik seorang anak hendaknya dikembalikan kepada alam agar pembawaan yang baik tersebut tidak dirusak oleh pendidik.
4.              Aliran konvergensi Aliran ini dipelopori oleh William Stern. Aliran ini menyatakan bahwa bakat, pembawaan dan lingkungan atau pengalamanlah yang menentukan pembentukan pribadi seseorang. Pendidikan dijadikan sebagai penolong kepada anak untuk mengembangkan potensinya. Yang membatasi hasil pendidikan anak adalah pembawan dan lingkungannya. Aliran ini lebih realitis, sehingga banyak diikuti oleh pakar pendidikan.

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar